Bagaimana Memenuhi Kebutuhan Sesuai Penghasilan?

Selasa, 21 Mei 20130 komentar

 

Penulis:Bella Donna

Sudah tidak asing lagi pernyataan “Aduh...gaji cuma numpang lewat aja nih!” Secara tidak sadar mungkin kita pernah mengucapkannya atau paling tidak mendengar seorang teman mengucapkan kalimat tersebut. Anehnya kalimat ini sering diucapkan saat waktu gajian belum lama berselang. Saya sering mendengar rekan saya mengeluh karena penghasilannya dirasa terlalu kecil sehingga tidak cukup untuk membeli ini dan itu.

Kalau sudah begitu, orang menuding kenaikan harga sebagai biang keladi gaji yang tidak pernah cukup. Namun kenaikan harga bukanlah satu-satunya penyebab pengeluaran lebih dari penghasilan. Banyak orang merasa penghasilannya tidak pernah cukup, meskipun sudah berkali-kali menerima kenaikan. Jika berusaha mengingatnya, kemungkinan besar habis untuk beli majalah, koran, makanan kecil, atau rokok. Belanja kecil seperti ini tanpa disadari jika dikumpulkan jumlahnya cukup besar, jika dikalikan dengan jumlah hari dalam setahun. Saya yakin Anda akan terpukau melihat besarnya jumlah uang yang dibelanjakan. Belum lagi langganan TV kabel, baju-baju yang anda beli saat discount, gadget terbaru yang dibeli, dan sebagainya.

Rasanya semakin hari semakin sulit membedakan keinginan dan kebutuhan disebabkan tuntutan gaya hidup yang sulit dipuaskan. Mengapa antara penghasilan dan pengeluaran seringkali berlomba mengalahkan siapa yang paling besar? Padahal kita tidak pernah belanja berlebihan atau sengaja menghamburkan uang. Menurut pengamatan saya, biasanya saat penghasilan bertambah, maka kita terdorong berbelanja lebih banyak. Akhirnya sama saja, berapapun kenaikan penghasilan yang diterima dirasa tidak pernah cukup. Nah apa yang harus kita lakukan agar seberapapun penghasilan yang kita terima bisa mencukupi kebutuhan dan membantu kita mencapai tujuan keuangan lainnya. Pertama, kenali penyebab penghasilan tidak mencukupi, lakukan analisa apa saja yang membuat penghasilan kita tidak pernah cukup:
 1. Kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi. Akibatnya dengan jumlah uang yang sama kita tidak lagi mendapatkan atau membeli barang dan jasa sebanyak sebelumnya, sebab nilai uang menurun dengan berjalannya waktu.Masalahnya jika penghasilan kita tetap atau jika kenaikan penghasilan kita tidak sebesar kenaikan harga barang dan jasa, sudah pasti penghasilan tidak cukup.
 2. Menganut gaya hidup besar pasak dari pada tiang, artinya hidup diluar kemampuan finansial, ini merupakan penyebab utama dari hampir seluruh masalah keuangan keluarga. Penyebab utama defisit biasanya dipicu sifat boros sehingga membuat kita belanja jumlahnya sering terlalu besar atau membeli barang yang sesungguhnya tidak perlu dibeli, namun tergiur oleh sale yang dilakukan oleh toko atau department store.
 3. Hutang dengan sistem berbunga. Tagihan kartu kredit yang dibayar minimal akan membuat tagihan kian membengkak. Belum lagi kalau terlambat membayar, sudah pasti kena denda keterlambatan membayar yang dikenal dengan istilah late charges. Belum lagi kalau kita tergiur dengan tawaran membeli barang kreditan dengan cicilan ringan atau 0% juga sering membuat kita terlena tanpa disadari pengeluaran bulanan jadi besar karena terlalu banyak membeli barang kreditan.
 4. Pengeluaran tak terduga, misalnya ada kerabat pinjam uang untuk keperluan ke rumah sakit, sumbangan uang perkawinan atau hadiah ulang tahun.walaupun sesekali tapi karena teman atau kerabat banyak mau tidak mau harus keluar uang yang tidak direncanakan. Setelah mengenali penyebabnya kita bisa mencari obatnya. Berikut ini tips bagaimana memenuhi kebutuhan Anda yaitu:

 

1. Mulai berinvestasi Inflasi yang terjadi tidak dapat dihindari karena terjadi secara alami dan diluar kemauan kita. Selain membuat defisit, inflasi juga dapat menggerogoti harta kekayaan jika tidak membuatnya berkembang biak ke dalam produ6 k investasi yang return-nya lebih tinggi dari asumsi tingkat bunga inflasi. Karena itu miliki anggaran investasi agar hasil keuntungannya bisa menambah penghasilan kita. Mulailah memiliki kebiasaan menabung minimal 10 % dari penghasilan dan tingkatkan jumlahnya sejalan dengan kenaikan penghasilan dan biasakanlah membayar tabungan dahulu sebelum membayar keperluan lainnya.

 2. Biasakan membuat anggaran belanja bulanan Tidak peduli berapa penghasilan kita, memiliki anggaran belanja bulanan sangat penting karena akan membuat pengeluaran lebih terkendali. Kuncinya adalah membuat anggaran pengeluaran lebih kecil dari penghasilan dan biasakan belanja hanya sebesar jumlah yang sudah dianggarkan. Dengan mematuhi anggaran yang dibuat, kita bisa tetap belanja tanpa mengalami defisit. Dengan adanya anggaran, kita dapat memisahkan mana pos pengeluaran wajib dan mana yang tidak wajib. Karena itu belajarlah mengelola keuangan dengan membedakan pengeluaran wajib, tidak wajib, keinginan dan kebutuhan.

 3. Batasi cicilan hutang bulanan Kewajiban cicilan hutang bulanan seperti cicilan rumah, cicilan mobil, cicilan barang kreditan, dan cicilan hutang kartu kredit, jika ditotal keseluruhan, sebaiknya tidak melebihi 30% dari penghasilan bulanan. Dengan demikian 70% sisanya dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup lainnya dan juga investasi. Semakin kecil porsi hutang (<30%) maka semakin besar sisa penghasilan bulanan yang bisa dimasukkan ke investasi sehingga semakin baik pula kondisi keuangan kita.

 4. Miliki dana cadangan Untuk mengatasi pengeluaran tak terduga, sebaiknya tidak mengambil dari gaji rutin. Sebab gaji rutin memang diperuntukkan untuk pengeluaran rutin. Sedangkan pengeluaran tidak rutin, sebaiknya diambil dari dana cadangan/dana darurat. Dana ini bisa berbentuk sejumlah uang yang disimpan di rekening bank sehingga Anda bisa mengambil saat ada keperluan mendadak. Bentuklah dana darurat minimal tiga kali pengeluaran bulanan. Namun jika penghasilan Anda tidak rutin atau belum stabil, sebaiknya dana cadangan yang dibentuk lebih besar lagi, misalnya 6 kali pengeluaran perbulan. Jika saat Anda sudah memiliki sejumlah dana sesuai dengan kebutuhan jumlah minimal dana cadangan, maka pisahkan ke rekening tersendiri. Jika sama sekali belum memiliki simpanan uang tunai, segeralah menyisihkan minimal 10 % secara rutin setiap bulan dari gaji Anda. Jika sudah tercapai sejumlah dana cadangan yang ditargetkan, maka Anda bisa berhenti membentuk dana cadangan dan kegiatan setoran rutin tabungan tadi bisa dialihkan ke produk investasi yang return-nya lebih tinggi. Jika sewaktu-waktu dana tersebut terpakai, segera isi kembali, sampai target dana cadangannya tercapai.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Info financial - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger