By Imelda
Tarigan, CFP
Sebentar lagi kita akan masuki bulan Ramadhan kemudian
merayakan Hari Raya Lebaran. Sebagai tradisi, kebanyakan dari kita akan
menerima THR, mungkin plus bonus. Uang extra ini sering kali menggoda untuk
belanja extra juga. Tapi banyak juga yang bingung mau diapakan uang extra
ini. Sebagai seorang Financial Planner, tentu saja saya akan saran kan untuk tidak
menghabiskan uang extra ini, tapi untuk dikembangbiakkan sebagai persiapan di
masa depan.
Ada baiknya untuk mempertimbangkan nasehat Pak Warren
Buffet : “Don’t save what is left after spending, spend what is
left after saving”. Beliau menkonfrontir antara gaya hidup dan kebiasaan berinvestasi. Jadi,
sebaiknya gaya hidup mengikuti rencana keuangan dan target investasi, bukan
sebaliknya: bayar sana-sini dulu lalu kalau ada sisa baru diinvestasikan.
Karena sehari-harinya saya akrab dengan Saham Perusahaan
Tbk yang terdaftar di BEI, maka saya melihat saham sebagai salah satu
media investasi yang baik untuk jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka
pendek, sebaiknya pilih saham-saham yang likuid sehingga mudah untuk dijual
setiap saat kita ingin jual pada harga yang sesuai dengan strategy trading
kita.
Sebagai investasi jangka panjang, tidak sedikit saham
yang bisa dibiarkan saja berkembang biak dengan sendirinya tanpa perlu
di”urus”. Berikut ini adalah beberapa saham yang baik, yang return nya
cukup baik di sepanjang tahun 2012 yang lalu. Artinya saham-saham ini kalau
dibeli di awal tahun kemudian didiamkan saja selama 2012 dan pada akhir tahun
2012 memberikan hasil seperti di bawah ini (hasilnya sudah termasuk deviden dan
capital gain):
Kalbe Farma hasilnya 60%
Indofood CBP hasilnya 54%
Perusahaan Gas hasilnya 50%
Semen Indonesia hasilnya 42%
Telkom hasilnya 35%
Modal awal utk investasi saham juga lebih murah dari
harga smartphone canggih. Misalnya Kalbe Farma per tgl 5 July 2013 dibuka
di harga Rp. 1400 per lembar, kalau nanti BEI menetapkan pembelian saham hanya
minimal 100 lembar saja, maka modal awal untuk beli saham Kalbe Farma hanya Rp.
1,400,000 (satu juta empat ratus ribu Rp.) saja, kecil kan?
Bagaimana dengan resiko investasi saham? Seperti halnya
investasi di instrumen manapun, pasti ada resiko. Oleh karena itu penting untuk
mempelajari managemen resiko. Untuk instrumen saham, manajemen resiko dilakukan
dengan membeli saham perusahaan yang memiliki fundamental baik dengan prospek
usaha yang cerah. Kemudian dilakukan analisa teknikal untuk menentukan saat
yang tepat untuk membeli saham, sehingga memastikan bahwa kita membeli saham
yang baik pada saat yang tepat, sehingga keuntungan lebih maksimal. Jadi
sebaiknya dalam berinvestasi, kita tau persis apa yang sedang kita lakukan,
jangan hanya ikut-ikutan atau latah. Perusahaan Sekuritas yang baik pastinya
memberikan training agar investor menjadi lebih cerdas. Dengan demikian, THR
kita akan dapat kita nikmati hasilnya dalam nilai yang lebih besar di kemudian
hari, dari pada sekedar untuk hura-hura sesaat.
Mari berinvestasi di perusahaan milik negeri sendiri!

Posting Komentar